WABISABI

Tulisan ini di tulis pada pagi hari. Mendung. Dan sedang dalam suasana hati yang baik. Sambil menunggu Good Day Cappucino di dalam freezer mencapai suhu yang saya inginkan karena es batu di rumah habis. Karena air dingin  yang sudah dituangkan. Tidak cukup dingin.

Sudah lama saya ingin memiliki sebuah blog sendiri sebagai tempat bercerita tentang apa saja. Tetapi ter-urungkan atas banyak hal yang terjadi di masa lalu.

Sekarang sudah masuk ke tahun 2022 dan saya sudah ber-umur 22 tahun. Di kamar saya. Nocturne-nya Chopin dalam E major sedang bergema berkali-kali-kali. Saya memejet tombol repeat di atas bawah kanan aplikasi Spotify. Lalu di depan logo berputar tertambah angka satu sekarang. Menurut saya ini romantis. Tapi itu cerita lain waktu untuk diceritakan.

Beberapa bulan lalu. Saya selesai menonton ulang Your Lie in April. Bukan kali pertama saya menonton nya. Mungkin sudah 3 atau 4 kali. Saya tidak begitu terlalu menghitungnya. Yang jelas juga bukan kali kedua. Di dalam anime apapun. Sekitaran episode 10 sampai 15 selalu menjadi yang terbaik. Bagaimana menjelaskannya. Hal ini seperti titik balik. Sebelum mencapai akhir. 

Lalu di sekitaran episode tersebut tokoh utama menyiulkan lagu Nocturne-nya Chopin sambil berjalan berdua dengan salah satu perempuan teman masa kecilnya di sekitaran pinggir pantai. Mereka berdua berbalas-balasan satu sama lain dengan lagu yang sama. Hanya untuk perempuan tersebut menangis pada akhir episode. Episode selanjutnya. Scene berubah. Dan perempuan tersebut sedang bermain piano dengan satu tangan. Tentu bukan karena dia mumpuni. Pada dasarnya dia tidak bisa bermain piano sama sekali. Lalu laki laki tersebut datang dan mengambil alih piano yang dimainkan dengan seenak jidat tersebut. Menghiburnya. Sambil mendengarkan perempuan tersebut bercerita. 


Nocturne-nya Chopin benar-benar dimainkan kali ini.


Emosional.

Sangat emosional bagi saya secara pribadi.


Banyak scene-scene yang melompat saat lagu ini dimainkan. Pengambilan kamera yang berubah kearah lorong kelas. Berpindah ke tangga sekolah. Masuk ke ruang kelas. Lapangan sekolah. Dan gambar bulan yang mengintip keluar di sudut kecil atas jendela.


Lalu saat saya menontonnya lagi. Saya akan masih yakin saya akan bergetar.


Lucunya. Pada kali pertama atau kedua. Berarti mungkin sekitar saat saya masih SMA dan awal kuliah saya menonton serial ini. Saya tidak menyadari tentang lagu ini (dan seberapa pentingnya hal tersebut). Juga tidak merasa adanya kesan apapun terhadapnya. Lalu pada satu waktu dimana saya sakit hati oleh perempuan saya sendiri karena alasan yang sepele beberapa bulan kemarin. Saya menemukan lagu ini dalam sebuah album piano klasik yang di dalam nya juga terdapat clair de lune, liebestraum, Una Mattina,  Nuvole Bianche, dan lain lain.

Perempuan ini. Tidak dekat sama sekali dengan saya saat SMA. Pun kita satu kelas selama 4 semester penuh. Dan saya juga masih rajin masuk sekolah pada waktu tersebut. Dahulu. kita mempunyai orang-orang dekatnya sendiri-sendiri.  


Banyak hal-hal baik yang tidak kamu ketahui sudah ada disekitar mu sedaridulu.

Banyak hal baik yang sudah ada untuk mu lebih dulu sebelum akhirnya bisa untuk disadari.

Menjelma dalam bentuk apapun. Bisa jadi sesuatu. juga bisa jadi seseorang.


"Katak di dasar sumur tidak tahu laut. Tetapi mengetahui langit dengan baik"

Idiom lama. Yang pernah saya baca sewaktu saya kecil.


Waktu berubah dan kita bertumbuh. Beranjak dewasa mengubah cara kita melihat sesuatu.

Lalu sekarang. Saya berpikir: Katak dalam cerita tersebut pasti hewan yang paling bahagia di dunia.


Tulisan ini ditutup pada siang hari. Sebagai bentuk apresiasi terhadap keindahan dalam berlalunya waktu. 

Bulan depan. Dua Tahun. Wabi-Sabi (侘寂)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mensive